Kamis, 19 Mei 2016

My Skin Care Routine (Oily Skin)

Kondisi kulit berminyak apalagi gampang jerawatan selalu bikin kita selektif untuk milih produk skin care yang cocok. Nggak jarang juga produk yang tadinya dikira bakal cocok, nggak taunya malah bikin breakout. Aku juga gitu, Aku udah cukup sering coba ini itu, ganti skin care, mulai dari serangkaian sampai campur. Kondisi kulit juga nggak selalu sama, kadang di waktu tertentu aku bisa cuma ganti skin care yang dirasa udah mulai nggak mempan dan nggak cocok, sampai pernah ganti secara keseluruhan.

Dulu kulitku tuh nggak parah banget berminyaknya kayak sekarang, cuma di T-zone aja. Entah karena aku balik ke kotaku yang sekarang panasnya terik banget, jadi ngaruh ke kulit wajah aku, atau memang skin care yang udah mulai gak cocok. Malah kemarin kulit wajah aku sempet yang beruntusan di dahi dan pipi, sejak saat itu aku jadi nyari-nyari lagi skin care yang kira-kira aman dan aku semakin hati-hati kalau mau pake sesuatu di wajah.

Aku pernah cocok sama wardah yang acne series, yang sempet juga setelahnya ganti dengan skin care lain, gara-gara coba-coba sempet makin parah, akhirnya balik lagi ke wardah karena wardah nggak pernah bikin breakout dan bikin kulit wajah aku lebih tenang. Serangkaiannya semua aku coba, tapi ujung-ujungnya kalau liat-liat di skin care corner department store dan nemu yang kira-kira cocok sama kulit wajah, tetep suka gemes pengen coba, haha.. Akhinya skin care yang aku pake sekarang campur-campur dan cocok di wajah aku, jerawat dan beruntusan udah pada pergi, kulit aku berangsur membaik.

Aku juga blog walking sana sini, salah satu yang nambah ilmu tentang skin care itu forumnya female daily dan vlog Co-Founder-nya, Mbak Affi Asegaf. Nyaring ilmu deh dari sana. Sebagian aku coba aplikasikan dan menyesuaikan dengan skin care yang udah cocok sama wajah aku sebelumnya.

Ilmu yang aku dapet dari forumnya female daily itu tentang double cleansing (dua kali pembersihan buat memastikan nggak ada make up dan kotoran yang masih menempel di wajah), double toning yaitu exfoliating toner (mengeksfoliasi sel kulit mati) dan hydrating toner (menghidrasi wajah dan melembabkan), moisturizing, serum, face oil, dan sunscreen untuk skin care pagi hari. Nah, setelah nimba ilmu disana, aku mengaplikasikannya sebagian di tahapan skin care aku.

Berikut ini skin care aku saat ini, dan mungkin soon akan bertambah, hehe..



Tahapannya :
1. Silkygirl Hydra Clean Makeup Remover for face, eyes, lips
Ini aku pakai untuk membersihkan eyes and lips make up, walaupun bisa untuk wajah tapi aku lebih prefer pake cleanser lain.

2. Wardah Purifying Cleanser for normal to oily skin
Untuk make up di wajah aku pakai produk wardah ini sebagai pembersih pertama, kadang aku gunakan dua kali sampai sisa make up sempurna terangkat.

3. Himalaya Herbals Purifying Neem Foaming Face Wash
Aku gunakan untuk membersihkan sisa make up di wajah. Jadi semalas apapun bersihin wajah, mau ngantuk atau capek aku selalu bersihin dua tahap dengan cleanser dan face wash.

4. Wardah Pore Tightening Toner
Toner aku gunakan setelah face wash, aku pikir sih ini termasuk hydrating toner karena melembabkan, untuk exfoliating toner, aku masih dalam masa pencarian produk yang cocok nih. Aku cukup selektif juga nyari exfoliating toner.

5. Clean & Clear Essentials Moisturizer
Ini moisturizer yang aku pakai, aku sengaja pakai yang non SPF supaya aku bisa pakai juga di malam hari, walaupun kadang ada yang lebih memilih moisturizer dengan SPF supaya praktis, tapi aku lebih nyaman terpisah, pakai sunscreen tersendiri.

6. Mentholatum Acnes UV Tint
Nah, ini sunscreen yang menurut aku paling aman untuk yang gampang jerawatan, dan tahapan pakai sunscreen hanya untuk morning skin care routine aku, tapi kadang kalau nggak keluar rumah, aku suka agak males pakai sunscreen, hehe...

7. Garnier Pure Active Anti-Acne White Acne & Oil Clearing Scrub
Facial scrub ini aku pakai dua hari sekali tapi untuk yang lagi jerawatan parah nggak disarankan untuk scrubbing wajah ya.

8. Sariayu Martha Tilaar Lotion Jerawat
Ini senjata andalan aku sekarang kalau udah mulai ada tanda-tanda bakal ada jerawat. Disaat mulai kemerahan dan sakit, aku langsung pakai ini, besoknya langsung berkurang kemerahan dan sakitnya, setelah ini nggak lama jerawatnya kering. It works very well for me.

Jadi tahapannya itu setelah aku bersihin make up aku pakai eyes and lips remover + cleanser, aku cuci muka pakai foaming face wash, toning (sementara ini aku hanya pakai hydrating toner aja, belum sama exfoliating toner), moisturizer, dan terakhir kalau lagi jerawatan aku pakai lotion jerawat. Kalau nggak, hanya sampai moisturizer. Kadang pakai bio oil juga sih untuk ngilangin bekas jerawat. Next akan aku review.

Itu skin care yang aku pakai sehari-hari yang akan aku review satu-satu, kalau serum aku masih nyari yang cocok, dan maskernya akan aku post terpisah. Aku harap share ini bermanfaat.

Love love,
ari.lestari41@gmail.com





Rabu, 18 Mei 2016

[Review] Lip Ice Repair & Treatment Lip Balm dan Oriflame Tender Care

Pernah nggak bibir kamu kering sampai kulitnya ngelupas dan perih banget? Dulu tuh aku sering banget kayak gitu. Bibirku bahkan sampai berdarah kalau keringnya lagi parah banget. Duh, nggak lagi lagi deh, soalnya rasanya nggak nyaman banget.

Nah, saat kondisi bibir aku kering parah gitu, aku cari perawatan bibir yang aman di salah satu departement store, keliling-keliling deh nyari dan aku nemu Lip Ice Repair & Treatment Lip Balm. Kenapa pilihan aku jatuh ke produk Lip Ice ini? Karena kata-kata repair and treatment-nya, hehe.. Selain itu. dulu aku pernah juga pakai produk lain dari Lip Ice yang sheer color itu, dan nggak pernah ada masalah. Akhirnya aku coba deh produk ini. Harganya sekitar 20 ribuan, atau dibawah itu mungkin, aku lupa, yang pasti affordable bange deh.

Produk ini bisa melindungi bibir dari sinar matahari, melembabkan bibir, mengatasi bibir pecah-pecah dan bibir yang terbakar sinar matahari. Bisa dipalkikasikan sesuai kebutuhan. Begitu deh kira-kira yang tertulis di kemasannya.


Biasanya lip ice itu aku kenal sebagai produk lip balm yang warna packaging-nya manis banget, kayak pink, orange, ya warna-warna seperti itu lah kira-kira. Tapi baru kali ini aku nemu produk lip ice yang warnanya hijau begini. Aku pribadi sih nggak pernah mempermasalahkan soal packaging, yang penting aman dan nggak ringkih, dan ini termasuk aman, nggak mudah terbuka.

Cara pakainya sama dengan lip balm kebanyakan yang diputar di bagian bawah, dan bagian lip balmnya naik. Warnanya putih, dengan tekstur yang menurut aku fine aja, ngga terlalu lengket, dan ada sensasi dingin ketika diaplikasikan. Sensasi dinginnya juga nggak bertahan lama, selepas itu hilang dengan sendirinya. Kalau nggak sengaja kejilat nggak ada rasanya dan nggak berbau, cuma sedikit aja aroma menthol, itupun sekilas aja. Ketahanannya cukup lama, kalau nggak makan dan minum bisa sekitar 5-6 jam. Kalau makan, ya hilang. 



Hasilnya di bibir aku, produk ini bekerja dengan baik. Setelah dipakai rutin sekitar 4 hari udah mulai keliatan kok hasilnya, bibir aku nggak separah sebelumnya, dan mulai lembab. Selain pakai produk ini, mengkonsumsi air putih dengan jumlah yang cukup juga membantu melembabkan bibir. Aku juga mengurangi aktivitas di luar ruangan yang bikin bibir aku terpapar sinar matahari secara langsung dalam jangka waktu yang lama dan nggak terlalu mantengin AC, hehe.. 

Di malam harinya, kadang aku juga pakai madu buat melembabkan bibir, dipakai sampai pagi. Aku juga kadang pakai Oriflame Tender Care, produk best seller-nya Oriflame yang multi fungsi, bisa untuk bibir, dan area lain yang kering. Aku udah yang kedua kali beli, yang sebelumnya yang varian cherry, dan yang sekarang yang original, produk ini cukup membantu melembabkan bibir aku yang super kering ini. Sekarang Alhamdulillah udah dalam kondisi yang sehat. Dulu sama sekarang harganya nggak jauh sih, cuma beda 3 ribu aja, yang sekarang aku beli 28 ribu, sebelumnya 25 ribu (kebetulan lagi diskon). 

Dari segi tekstur hampir mirip sama si Lip Ice, mungkin karena kondisi bibir aku kering banget, jadi fine-fine aja, tapi kalau dipake di area lain kayak di siku tangan, agak lengket sih. Cara pakainya dicolek-colek jari gitu, jadi tangan aku mesti dalam keadaan bersih dulu sebelum pakai produk ini. Tender care ini juga nggak berwarna dan berbau. Packagingnya lucu sih, karena aku suka bentuk dan warnanya, looked cute aja gitu. Ketahanannya kalau malem dipake, pas bangun tidur masih kerasa lembab di bibir dan kalau dipakenya siang hampir sama kayak lip ice.

Oh ya, sedikit tips, dalam satu minggu, satu atau dua kali aku suka mengeksfoliasi bibir aku, untuk menghilangkan sel kulit mati dengan bahan alami. Biasanya aku pakai minyak zaitun yang dicampur gula atau madu yang dicampur gula dengan takaran secukupnya. Aku oleskan di bibir, didiamkan sebentar dan dipijit lembut aja dengan gerakan memutar, terus bilas deh dengan air. 

Kesimpulannya :
1. Kedua produk ini sama-sama membantu melembabkan bibir yang super duper kering
2. Sama-sama Affordable
3. Keduanya nggak mengkilap, nggak ada aroma yang menyengat dan tanpa rasa. Jadi cocok untuk melembabkan bibir sebelum pakai lipstik yang matte. I always do it, before apply my matte lipstick
4. Lip Ice melindungi dari sinar UV, tapi Tender Care nggak, but I don't mind, karena aku pake Tender Care kalau malem aja, atau kalau nggak keluar rumah
5. Dari cara pakai, aku merasa Lip Ice lebih praktis, karena Oriflame harus dicolek dulu, tapi mungkin karena ini nggak hanya untuk bibir aja.

Repurchase?
Ya, tapi untuk lip ice hanya kalau dalam kondisi bibir perlu treatment lebih.

Disclaimer:
Review ini dibuat tanpa disponsori oleh siapapun dan murni pengalaman pribadi. Jadi untuk hasil, bisa berbeda untuk setiap orang.





Selasa, 17 Mei 2016

Pasca Operasi Kista Endometriosis

Pasca operasi, aku kontrol lagi untuk memeriksa luka bekas operasi. Di kontrol yang pertama ini aku ganti perban, USG dan lepas jahitan. Dokter bilang indung telurnya bersih dan aku dikasih lagi obat oral anti biotik, anti nyeri, dan obat batuk, karena aku sering batuk dan batuk setelah operasi di daerah perut itu linuu. Luka operasi berasa ketarik. Kontrol selanjutnya seminggu kemudian, dan di kontrol yang kedua ternyata ada sisa jahitan yang dilepas, karena aku nggak berani lihat luka jahitan, jadi aku nggak tahu kalau jahitan bagian atas masih ada, hehe.. Aku baru berani lihat luka di kontrol yang kedua.

Dokternya bilang setelah ini hanya tinggal pakai salep anti keloid saja. Dokter juga menjelaskan perlu terapi lanjutan untuk membasmi sang kista, pilihannya antara obat oral atau disuntik, yang katanya efek sampingnya nggak menstruasi selama periode terapi itu. Terapinya sebulan sekali selama 3 bulan. Kemudian setelah menikah nanti aku perlu di-HSG, hanya untuk memastikan tidak ada penyumbatan di saluran telur. Ya nggak apa lah, sekalian program hamil nanti.

Aku kembali lagi ke RS sekitar 10 hari kemudian untuk ambil hasil PA. Jeng Jeeeeeng... Hasil PA dari Lab menyebutkan memang dipastikan itu kista endometriosis. Nggak terlalu paham sih apa yang disebutin di form hasil lab itu, tapi begitulah kira-kira, dan itu juga yang dijelaskan kembali samma dokter. Untuk seterusnya aku disarankan untuk menjauh dan memutuskan hubungan dengan cokelat dan soda. Banyak makan sayuran dan buah-buahan. Aku juga nggak terlalu banyak mengkonsumsi ayam potong, tahu dan tempe. Menghindari fast food atau junk food yang paling utama. Ya pokoknya makan makanan sehat deh.

Luka operasinya sempat basah lagi setelah sebulan 2 minggu, aku juga bingung, kenapa jadi keluar cairan bening kekuningan gitu. Di bagian lain ada nanah dan darah juga. Karena saat itu aku nggak bisa ke RS Hermina, jadi aku konsul ke dokter di kotaku yang awalnya tempat aku periksa, dokter bilang itu infeksi. Aku cuma dikasih anti radang, anti biotik, sama vitamin, kemudian luka infeksinya diolesin madu, tapi aku agak kecewa karena gak bisa konsul nyaman, dokternya keburu-buru gitu, nggak kayak biasanya. Seminggu minum obat pun nggak berpengaruh apa-apa. Lukanya masih basah.

Akhirnya aku disarankan sama beberapa orang kenalan dan saudara supaya lukanya cepat kering, coba untuk konsumsi chinese medicine gitu, dan hasilnya bagus. Area di luka operasi nggak ngilu lagi, aku agak lebih bebas bergerak, dan luka operasi berangsur kering. Sebenarnya dibantu sama salep dari dokter juga yang sebelumnya pernah dikasih untuk anti keloid itu. Sempat juga dibantu sama salep terramycin, tapi aku ngga menyarankan salep ini kalau tanpa resep dokter. Kenapa aku pakai ini, karena sempat disarankan sama orang di apotek, saking udah desperate, lukanya lama kering. Saran aku sih, selalu turutin apa kata dokter dan konsumsi atau pakai obat yang diresepkan dokter aja, karena pasti itu disesuaikan sama kondisi tubuh kamu. Kondisi tubuh setiap pasien pasca operasi pasti nggak selalu sama.

Sekian dulu curhat tentang si kista ini, dan upaya aku untuk memutuskan hubungan dengan sang kista. Keep healthy yaa. Feel free untuk kontak aku via email ari.lestari41@gmail.com.

Salam sehat..

Selasa, 26 April 2016

Operasi Kista Endometriosis (Laparotomi)

Di hari operasi, dari subuh pun aku udah siap-siap dan dijemput perawat untuk dianter ke ruang persiapan operasi jam 07.00, setelah sebelumnya ditensi dan Alhamdulillah masih dalam batas normal 100/90. Sampai di ruang persiapan operasi aku ganti kostum dibantu perawat bagian OK. Nunggu dokternya lama juga sih, udah berdoa, ngobrol ngaler ngidul, berdoa lagi, becanda-becanda, ngobrol sama pasien lain. Barulah dijemput perawat ruang operasi itu jam 10 lebih. Di dalem kamar operasi, aku disambut sama lagu, mungkin sambil persiapan biar ga tegang, tapi ya karena perawatnya ngajak ngobrol santai dan friendly jadi aku juga santai.

Mulai deh dipasang peralatan ini itu, di dada, tangan, jari, kaki. Semuanya buat ngecek tanda vital tubuh selama operasi. Nggak lama dokter biusnya datang, memperkenalkan diri, dan ngajak ngobrol juga. Saat dokternya ngobrolin berat badan aku dan sepertinya takaran bius yang akan disuntik ke badan aku sama perawat, disana kayaknya si bius udah mulai masuk dan kleyengan lemas, terakhir aku ingat aku masih jawab apa yang dokter tanya dan liat jam di kamar operasi yang nunjukkin jam 10.30.

Perasaan kayak baru beberapa menit lalu tidur cantik, tiba-tiba udah di ruang recovery aja dan masih berasa agak susah melek. Dipelotot-pelototin tapi susah, akhirnya merem lagi dan mulai terasa juga perih dari luka operasi. Perihnya bikin tanpa sadar air mata juga netes, mungkin karena perasaan lega dan bersyukur juga. Ibu mulai ngeliat aku sadar, dipanggil lah si mas perawat. Antara sadar sama nggak, disana aku denger perawatnya meriksa, ngasih obat anti nyeri berupa infus, ada yang ngambil darah, terus di-skin test supaya tau badan aku alergi obat yang dikasih atau nggak, dan dikasih gelang kuning yang kalau nggak salah semacam penanda kalau aku masih dalam pengawasan gitu. Karena rasanya mataku masih berasa berat banget. Akhirnya aku tidur lagi.

Nggak lama aku bangun lagi, masih tetep maksa untuk bangun tapi susah. Dokter biusnya masuk, bilang jangan maksain diri ngelawan obat bius yang masih ada di badan, istirahat aja. Saat itu aku mungkin baru 60% sadar, perihnya udah mulai berkurang tapi perawat yang laporan tentang hasil operasi sama orang tua aku, beberapa anggota keluarga yang nengokin aku ke dalem, aku inget, tapi belum bisa ngomong sama sekali. Berasa lemas banget. Aku sempat liat jam, ternyata udah jam 14.30. Kaget. Dikira operasi aku nggak selama itu. Perawat bilang, aku baru boleh masuk kamar rawat kalau udah bisa diajak bicara.

Di ruang recovery, ibu sempat pingsan, aku kaget tapi untuk bicara minta tolong sama perawat pun aku belum bisa. Mangap juga susah. Mungkin karena semaleman ibu ikutan ngga bisa tidur dan nggak napsu makan, jadi nge-drop. Untunglah mas perawatnya baik, langsung bawa ibu ke ruang sebelah untuk diperiksa.

Jam 15.40 aku baru dibawa ke kamar rawat, dan masih puasa sampai sekitar jam 17.00. Setelah ngobrol-ngobrol, aku ternyata di ruang operasi sekitar 3 jam, karena keluar jam 13.30. Dibanding pasien-pasien lain, aku paling lama. Setelah operasi, aku diperiksa dan dikasih obat yang disuntik ke selang infus setiap jam 22.00, 24.00, siangnya sekitar jam makan siang. Belajar gerak mulai dari miring kanan-kiri, dan duduk semuanya bertahap, dan baru boleh turun dari kasur setelah kateter dicopot. Total lamanya aku diem di kasur mungkin sekitar 2 hari. Duh, pegelnya luar biasa.

Dirawat sejak hari Selasa malem, dioperasi besok harinya dan Jumat pagi baru dilepas kateter. Sabtu siang aku baru diizinkan pulang setelah diperiksa lagi dokter spesialis obgyn yang menurut aku oke banget, ramah, konsultasinya enak, dan metal abis. Jarang juga aku dapet dokter obgyn perempuan, jadi ngerasanya cocok banget.

Dari pengalaman ini, banyak pelajaran dan hikmahnya. Pelajaran tentang sabar, pengorbanan, luar biasanya nikmat sehat. Banyak hal yang bisa dipetik dan dengan banyaknya yang nengok, aku bersyukur, banyak yang care sama aku dan keluarga. Alhamdulillah.. Semoga kita selalu dianugerahi nikmat sehat..



Feel free if you wanna ask me, you can contact me at
gmail : ari.lestari41@gmail.com


Persiapan Operasi Kista Endometriosis

Setelah 3 tahun nyoba berbagai metode pengobatan buat membasmi sang kista, ternyata belum juga ada hasil signifikan. Awal divonis kista, aku sempat terapi obat danazol selama 2 periode, 1 periodenya sekitar 3 bulan, dan sebelum memasuki periode kedua, aku harus rehat sekitar 1 atau 2 bulan. Setelahnya aku sempat juga konsumsi obat herbal, seperti madu, habbatusauda, temu putih, temu item, dan masih banyak lagi. Asli banyak banget.

Di akhir tahun 2015, aku memutuskan untuk operasi aja. Disarankan sama dokter spesialis obgyn-ku dengan tindakan laparoskopi yang katanya pemulihannya nggak lama karena sayatannya kecil hanya untuk masukin alat ke dalam aja. Paling perlu 2 atau 3 sayatan kecil, tapi memang nggak mungkin operasi di kotaku, karena keterbatasan alat. Saran dokter operasinya di Bandung, tepatnya di RS Hasan Sadikin. Okelah, palingan cuma bentar.

Sebetulnya dari dulu sekitar tahun 2013 udah sempat mau operasi tapi maju mundur. Kebayang sama prosedurnya yang lama, pra operasi belum lagi ditambah pasca operasi, pasti bakal lama gak masuk kantor dan betul-betul nggak kebayang kerjaanku kayak gimana. Bakal banyak banget yang nggak ke-handle. Karena aku pernah ngerasain nggak masuk sehari aja besokannya lembur. Belum lagi rumah sakitnya diluar kota. Kalo masalah nyali, sama sih maju mundur juga, hahaha.. Pernah dioperasi sebelumnya pun tetep agak keder, karena aku agak anti sama suasana rumah sakit.

Di pertengahan Bulan Februari mulai deh wara wiri ke puskesmas untuk minta rujukan ke RSUD untuk kemudian dirujuk lagi ke RS Hasan Sadikin. Setelah melalui alur yang panjang, aku dapat juga rujukan ke RSHS. Aku berangkat ke RSHS untuk pemeriksaan dan pendaftaran operasi.Ini pertama kalinya aku dateng ke RSHS untuk periksa, dan disana penuh luar biasa. Sesampainya disana, karena sesuai rujukan aku dateng ke Poli Aster, tapi ternyata menurut perawat disana, aku nggak bisa klaim biaya di Poli Aster, karena Poli Aster itu poliklinik khusus melayani kesuburan, menangani infertilitas. Pokoknya Poli Aster itu berhubungan sama kesuburan dan program punya baby, dan gak bisa pakai BPJS.

Aku pun diarahkan ke Poliklinik Spesialis dan direkomendasikan salah satu dokter spesialis kandungan disana. Karena jaraknya yang jauh-jauhan, aku buru-buru kesana karena perawatnya bilang sebentar lagi biasanya praktek udahan. Buru-buru pun aku hampir ditinggal dokternya. Padahal sebelumnya ketemu di gedung yang sama, itu dokter udah hampir ngilang aja, hihi..
Pada akhirnya aku nggak pakai BPJS karena nggak tau alurnya gimana.

Dokter kandungan yang direkomendasikan ternyata oke banget. Penjelasan dan pemeriksaannya detail, ramah, nggak bikin nge-drop, yang paling penting mulutnya nggak racun, tenang gitu pembawaannya, dan aku paling demen dokter yang kalau diajak konsul nggak keburu-buru nyuruh pulang, haha.. Cuman yang bikin kaget, gak bisa dilakukan tindakan laparoskopi, tindakan operasinya laparotomi (kayak operasi caesar yang sayatannya lumayan besar). Wah, penyembuhannya pasti agak lebih lama nih, tapi ya udah terlanjur juga. Maju aja lah. Sebenernya kalau laparotomi sih di kotaku juga bisa, tapi nggak deh, RSUD sering kali penuh dan lama dapet kamar, belum lagi ribet alur BPJSnya.

Selesai diperiksa, aku daftar untuk operasi di RSHS, taunya dapet jadwal operasi tanggal 22 April 2016. Woow, 2 bulan lagi, kelamaaaan. Dokternya cuma nyaranin untuk diambil dulu aja, kalau di-cancel tinggal telpon. Asik, gak ribet deh. Di rumah, aku sama ortu akhirnya diskusi, mau nunggu Bulan April atau mau cari RS lain. Akhirnya diputuskan untuk coba ke RS Hermina.

Minggu depannya, aku periksa di Hermina dan akhirnya daftar untuk operasi disana. Sayangnya semua kamar full dan kita diminta untuk nunggu kabar selanjutnya. Enggak taunya besok harinya dari pihak RS hermina udah langsung ngabarin kalau ada kamar kosong. Alhamdulillah.. Kita diminta untuk dateng di jam 5 sore. Langsung deh siap-siap segala keperluan buat disana. Sesampainya disana pun, yang tadinya aku bayangkan bakal langsung bobo manis di kamar, tapi ternyata pemeriksaan pra-operasi langsung malem itu juga. Diluar bayangan, pelayanannya ekspress, sigap banget. Waktu aku tanya pun ternyata operasinya besok paginya, yang tadinya aku kira bakal lusa.

Di operasi sebelumnya, persiapan operasi FAM itu makan waktu sampai berhari-hari, antrinya pun luar biasa. Pas kemarin di hermina, cuman 2 jam aja. Mulai dari persiapan dokumen dan formulir yang harus diisi pra-operasi, timbang tensi, rekam jantung, cek darah, dan rontgen. Semuanya pun diatur sama perawatnya, kita cuman tinggal duduk manis di ruang tunggu sambil nonton, haha.. Pemeriksaan mulai sekitar jam 18.30 selesai jam 21.00 langsung dianter ke kamar, dan kamarnya ternyata baru selesai renovasi, suasananya nggak kayak rumah sakit, dibikin senyaman mungkin.


Setelah masuk kamar rawat, aku langsung dipasang gelang pasien lucu warna pink, dan siap-siap untuk puasa sebelum operasi. Prosedur pra-operasinya mulai dari pasang infus, pembersihan daerah sekitar yang akan disayat saat operasi (dicukur), dan dikasih obat pencahar. Aku paling gak tahan sama obat pencaharnya, (maaf) bikin langsung pengen ke toilet. Jam 23.00 aku mulai puasa.

Entah karena gak sabar pengen cepet besok atau tegang, haha.. Semaleman aku nggak bisa tidur, cuman merem sekian menit atau paling lama setengah jam. Aku bangun lagi, terus aja begitu. Aku agak panik karena yang aku takutkan itu bukan operasinya, tapi justru karena takut tekanan darah aku rendah dan menghambat operasi, nanti tambah lama nginep di RS. Itu yang bikin panik.

Kamis, 07 Januari 2016

Pengalaman Endoskopi

Endoskopi itu metode pemeriksaan untuk melihat organ dalam melalui sebuah alat. Endoskopi aku ini pemeriksaan untuk melihat laring. Saat bersiap untuk dilakukan tindakan pemeriksaan ini, pertama aku dibius di bagian mulut supaya sulit untuk menelan, dan memang sekitar 15 menit kemudian mulai terasa kaku dan sulit menelan sampai harus dibantu alat untuk membantu menghilangkan air liur.

Mulailah dilakukan tindakan endoskopi, sebuah alat dimasukan ke dalam tenggorokan, tampak sebesar antena radio dengan ujung sebuah kamera yang dihubungkan ke komputer, jadi keadaan di dalam terlihat di layar komputer. Aku kurang bisa melihat jelas karena fokus membuka mulut lebar-lebar. Disaat kondisi di laring terlihat jelas, dokter mulai merekam dan memotret. Agak sulit juga memotret dengan jelas. Dokter hanya memberi aba-aba kepadaku untuk bersuara dengan melafalkan huruf A atau I, dan itu nggak mudah dalam kondisi mulut kaku.

Lama-lama mulai terasa efek obat biusnya hilang, dan terasa ingin menelan, tapi karena malas dibius lagi akhirnya aku tahan untuk tidak menelan walaupun sempat tanpa sengaja aku menelan dan bergesekan dengan alat tersebut yang bikin tenggorokanku agak perih. Obat biusnya memang not bad, hanya terasa seperti obat batuk yang pedas dan pahit, yang membuat agak kurang nyaman memang rasa pedasnya yang rasanya membuatku sempat tersedak.

Akhirnya gambar laringnya didapat juga dan jelas terlihat. Selesailah endoskopinya. Hmmm.. akhirnyaaa, tapi tenggorokan masih terasa kaku, agak sulit berbicara jelas, dokter pun menyarankan tidak dulu minum dan makan selama sejam, karena takut tersedak, dan memang, efek bius baru hilang sekitar 1 jam kemudian.

Seminggu kemudian hasil diagnosa dokter, aku memang menderita GERD (Gastroesophangeal reflux disease) yang kurang lebih sama dengan LPR. Karena tampak ada bintik putih yang dokter THT bilang adalah asam lambung. Setelah menerima hasil diagnosa, dokter THT pun memberi rujukan untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam untuk mengobati maag-nya.

Pengobatan LPR atau GERD membutuhkan waktu yang tidak sebentar, memang harus sabar dan disiplin untuk merawat lambung serta mengistirahatkan lambung sekitar 2 jam setelah makan malam baru boleh pergi tidur. Maag memang tidak boleh dianggap remeh, benar-benar harus diobati dengan baik.

Kena Laryngopharyngeal Reflux, Suaranya Kok Jadi Begini?

Gaya hidup sama manajemen stress yang buruk kadang jadi penyebab penyakit datang. Dulu saat aku kerja di salah satu perusahaan swasta di bidang jasa keuangan, gaya hidup aku itu, aduuuh.. Tidak untuk ditiru. Makan telat, tidur larut malem, makan malem langsung tidur, ditambah aku itu termasuk orang yang gampang stress. Jadilah saat itu Kista Endometriosis yang divonis dokter sebelumnya pun nggak tampak perubahan yang signifikan. Sempat ada perubahan disaat minum Azol (obat yang disarankan dokter kandunganku untuk menghambat pertumbuhan kista), dan hasilnya sempet bagus. Kista 11 cm berkurang jadi 3 cm, tapi sayangnya kistanya bandel, setelah obat dihentikan kistanya gak mempan lagi diobatin.

Satu hari, ketika sesi meeting pagi di kantor, (saat itu kebetulan sesi meeting pagi kita adakan di front office) dan aku jadi narasumber untuk kasih quotes of the day, tiba-tiba suara serak, sulit untuk mengimbangi suara berisik lalu lalang kendaraan di luar. Suara aku jadi kecil, sulit untuk teriak. Aku tersiksa temen-temen kantor sebagian malah cengar cengir denger keanehan suara aku. Lama-lama aku nggak bisa diem aja ngerasain perubahan sama suara aku. Temen kantor pun menyarankan untuk konsultasi ke dokter.

Akhirnya aku memutuskan ke dokter THT, hasilnya dokter bilang aku kena Laryngopharyngeal reflux, yang secara sederhana kalau dijelaskan asam lambungku itu naik ke pita suara dan mengganggu pita suara aku, semacam bengkak di pita suara. Aku bengong, agak aneh. Itu asam lambung bandel amat naik-naik ampe pita suara, ckckck..

Berobat di dokter itu masih belum terasa perubahan. Dulu belum terasa keluhan yang berarti, cuma suara yang berubah agak aneh, kayak cowok kadang, nge-bass, hehe.. Rasa tenggorokan lelah kalau dipaksa untuk teriak atau terus menerus bicara mulai terasa saat aku udah resign dari kerjaan yang lama ke tempat baru yang posisinya jadi HRD bagian rekrutmen. Sebetulnya kerjaan yang lama dengan yang baru sama-sama banyak mengandalkan suara. Dulu jadi staff front office dan setelahnya aku jadi interviewer. Tapi kondisi maskin terasa nggak nyaman saat di tempat kerja baru, mungkin karena lelah mewawancara banyak orang dalam satu hari.

Aku memutuskan berobat lagi ke kota lain, sebelahan dengan kota tempat aku tinggal, karena merasa dari segi fasilitas kesehatan lebih mendukung. Dokter THT-nya asik banget, dan sangat bikin nyaman untuk diajak konsultasi, berdedikasi banget deh. Dokternya menyarankan aku untuk pemeriksaan lanjutan di klinik tempat dokter itu praktek juga, masih di kota yang sama. Dokternya bilang nama pemeriksaannya endoskopi, nanti diteropong ke dalam pita suaranya. Kaget. Apa rasanya ya? Dokternya minta untuk secepatnya. Jadilah weekend kita diminta datang ke klinik itu. Saran dokter, dilarang minum yang dingin-dingin dulu, makanan pedas, asam, dan puasa bicara untuk sementara waktu supaya nggak terlalu lelah. Dari sekian banyak saran dokter yang paling sulit itu puasa bicara, gimana mau puasa di kantor? Kerjaan cuap cuap, hahaha... Ditambah aku bawel wel wel..

Di next post, aku akan bahas tentang endoskopinya yaa..